JAKARTA, Indonesia—Permainan yang berbasis teknologi
Augmented Reality, Pokemon, dilaporkan telah mengakibatkan sebuah
peristiwa perampokan di daerah Missouri, Amerika Serikat, seperti
dilansir oleh Yahoo! News pada Senin, 11 Juli.
Departemen kepolisian O’Fallon mengumumkan peringatan di akun Facebook mereka setelah para tersangka perampokan yang berusia antara 16 hingga 18 tahun ditemukan di dalam sebuah kendaraan dengan kepemilikan senjata api, beberapa saat setelah mereka menindaklanjuti laporan perampokan bersenjata.
Para remaja tersebut merupakan tersangka dari beberapa perampokan bersenjata di daerah St. Louis dan St. Charles. Petugas percaya bahwa para tersangka menggunakan aplikasi Pokemon Go untuk mengundang para Pokemon Trainer yang akan menjadi mangsa mereka.
“Kami percaya mereka menaruh beacon di PokeStop yang menarik minat lebih banyak orang untuk mampir di lokasi tersebut. Mereka sepertinya menggunakan aplikasi tersebut untuk mengetahui lokasi pemain yang berdiri di sekitar lokasi tempat parkir atau lokasi manapun yang mereka inginkan,” tulis petugas kepolisian dalam akun Facebook mereka.
Pokemon Go menggabungkan dunia nyata dan dunia Pokemon dengan teknologi Augmented Reality dan berhasil menjadi aplikasi paling banyak diunduh di Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru hanya beberapa hari setelah peluncurannya.
Foto-foto para Pokemon Trainer yang berjalan dengan telepon genggam di tangan sudah banyak beredar di media sosial.
Seorang remaja di Amerika Serikat bernama Shayla Wiggins bahkan sempat kaget saat ia menemukan sebuah mayat di sungai ketika sedang berusaha menangkap Pikachu.
“Ketika saya melihat ke suatu arah, saya menyadari ada sesuatu yang hanyut di air, tepat di depan saya,” kata remaja yang tinggal di Wyoming tersebut kepada BuzzFeed.
Wiggins kemudian langsung menghubungi pihak berwajib.
Mike Schultz, seorang sarjana Ilmu Komunikasi di New York mendapatkan luka di tangannya setelah terjatuh dari papan seluncur saat berusaha menangkap Pokemon.
Di Australia, pihak kepolisian kawasan utara telah mengeluarkan peringatan bagi para Pokemon Trainer untuk tidak masuk ke kantor polisi Darwin yang merupakan salah satu lokasi PokeStop.
Pokemon Go merupakan aplikasi permainan berbasis teknologi Augmented Reality yang merupakan kerjasama The Pokemon Company dengan Niantic Labs, mantan anak perusahaan Google yang sebelumnya juga pernah merilis game Augmented Reality lainnya, Ingress. —Rappler.com
Departemen kepolisian O’Fallon mengumumkan peringatan di akun Facebook mereka setelah para tersangka perampokan yang berusia antara 16 hingga 18 tahun ditemukan di dalam sebuah kendaraan dengan kepemilikan senjata api, beberapa saat setelah mereka menindaklanjuti laporan perampokan bersenjata.
Para remaja tersebut merupakan tersangka dari beberapa perampokan bersenjata di daerah St. Louis dan St. Charles. Petugas percaya bahwa para tersangka menggunakan aplikasi Pokemon Go untuk mengundang para Pokemon Trainer yang akan menjadi mangsa mereka.
“Kami percaya mereka menaruh beacon di PokeStop yang menarik minat lebih banyak orang untuk mampir di lokasi tersebut. Mereka sepertinya menggunakan aplikasi tersebut untuk mengetahui lokasi pemain yang berdiri di sekitar lokasi tempat parkir atau lokasi manapun yang mereka inginkan,” tulis petugas kepolisian dalam akun Facebook mereka.
Pokemon Go menggabungkan dunia nyata dan dunia Pokemon dengan teknologi Augmented Reality dan berhasil menjadi aplikasi paling banyak diunduh di Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru hanya beberapa hari setelah peluncurannya.
Foto-foto para Pokemon Trainer yang berjalan dengan telepon genggam di tangan sudah banyak beredar di media sosial.
Seorang remaja di Amerika Serikat bernama Shayla Wiggins bahkan sempat kaget saat ia menemukan sebuah mayat di sungai ketika sedang berusaha menangkap Pikachu.
“Ketika saya melihat ke suatu arah, saya menyadari ada sesuatu yang hanyut di air, tepat di depan saya,” kata remaja yang tinggal di Wyoming tersebut kepada BuzzFeed.
Wiggins kemudian langsung menghubungi pihak berwajib.
Mike Schultz, seorang sarjana Ilmu Komunikasi di New York mendapatkan luka di tangannya setelah terjatuh dari papan seluncur saat berusaha menangkap Pokemon.
Di Australia, pihak kepolisian kawasan utara telah mengeluarkan peringatan bagi para Pokemon Trainer untuk tidak masuk ke kantor polisi Darwin yang merupakan salah satu lokasi PokeStop.
Pokemon Go merupakan aplikasi permainan berbasis teknologi Augmented Reality yang merupakan kerjasama The Pokemon Company dengan Niantic Labs, mantan anak perusahaan Google yang sebelumnya juga pernah merilis game Augmented Reality lainnya, Ingress. —Rappler.com
Bagaimana Pokémon GO membuat saya kembali bermain di luar rumah
Siapkan power bank agar kamu tidak kehabisan baterai di saat-saat genting seperti menangkap Pokémon langkah
Setelah beberapa waktu
lalu sempat melalui masa uji coba di beberapa negara, Niantic Labs
akhirnya telah merilis Pokémon GO secara terbatas di beberapa negara,
seperti Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.
Peluncuran terbatas dari Pokémon GO ini tidak lantas menyurutkan animo gamer
di Indonesia untuk segera mencobanya dengan berbagai cara, entah itu
mulai dari mengganti region iTunes mereka hingga mengunduh Pokémon GO di
sejumlah situs penyedia ilegal.
Sebagai salah salah satu game yang sangat dinantikan tahun
ini, saya jelas tergoda sekali untuk menjajal permainan Pokémon GO,
apalagi jika bukan karena rasa penasaran atas sensasi menangkap monster
di dunia nyata.
Lantas apakah game ini bisa menjawab ekspektasi para penggemar Pokémon di dunia nyata? Mari kita simak ulasannya bersama-sama.
Game sekaligus ‘fan service’ yang begitu familiar
Jujur saja, selama ini saya belum pernah menjumpai game smartphone dengan teknologi augmented reality alias AR yang sanggup menghasilkan hype sebesar Pokémon GO, bahkan di saat game tersebut masih belum beredar secara luas sekalipun.
Kemunculan Pokémon GO sendiri seolah-olah menjadi jawaban
bagi para fans yang beranda-andai jika Pokémon betulan ada di dunia
nyata, kira-kira jenis monster apa yang tinggal di sekitar tempat
tinggal mereka.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan game Pokémon sejak
zaman Pokémon Reddan Blue hingga Pokémon Omega Ruby atau Pokémon Alpha
Saphire, Pokémon Go jelas menjadi semacam fan service yang begitu menyenangkan untuk dimainkan melalui perangkat mobile kesayangan.
Apalagi mengingat game ini mengangkat aneka ragam
jenis monster Pokémon dari generasi pertama yang menurut saya jauh
lebih familiar di mata penggemar seperti Pikachu, Bulbasaur, Squirtle,
dan banyak lagi lainnya.
Pemilihan monster dari generasi pertama Pokémon (atau yang dikenal juga dengan Kanto Pokédex Pokémon)
ini saya pikir merupakan pilihan yang sangat tepat karena sebagian
besar dari mereka begitu sangat populer berkat medium adaptasi komik
manga, serial anime, dan juga film layar lebar Pokémon.
Jadi, bila kamu sama sekali tidak memahami perkembangan
generasi monster baru Pokémon, maka kamu sekarang sedang menjumpai
sebuah game Pokémon yang tepat karena hampir semua monster di
sini merupakan aneka ragam makhluk lucu yang mungkin saja dulu ikut
menghiasi masa muda kamu semua.
Minim penjelasan tetapi mudah dipelajari
Layaknya game AR Ingress yang juga dikembangkan oleh
Niantic Labs, Pokémon GO mendorong para pemainnya untuk aktif bergerak
dan menjelajah lingkungan sekitar mereka demi berburu aneka ragam
Pokémon yang ada di luar sana.
Setiap monster yang kamu temukan juga diacak di sejumlah lokasi sehingga terkadang tak bisa diprediksi kemunculannya. Game ini menyediakan opsi Nearby Pokémon untuk melihat jenis monster apa saja yang ada di sekitarmu.
Permainan Pokémon GO pada dasarnya sama seperti game Pokémon di platform handheld keluaran Nintendo, hanya saja kamu akan menjumpai aneka ragam fitur tambahan baru seperti GPS Geo-Tagging, dan AR.
Fitur GPS Geo-Tagging sendiri difungsikan untuk meletakkan beberapa lokasi Pokéstop yang berguna menjadi sarana checkpoint
pengumpulan item seperti Pokéball, Potion, dan lain-lain. Keberadaan
item tersebut begitu krusial bagi permainan Pokémon GO sehingga para
pemain diajak untuk mengunjungi berbagai macam lokasi strategis seperti
monumen dan tempat ibadah di kota mereka untuk mendatangi Pokéstop.
Saat kamu menjumpai seekor monster, game ini menyediakan semacam mini-game
lempar Pokéball yang memanfaatkan interaksi kamera AR. Cara
menangkapnya sendiri cukuplah mudah, yang harus kamu lakukan adalah
menahan jarimu di atas Pokéball untuk menentukan kekuatan lemparanmu dan
melontarkannya ke arah sang Pokémon.
Apabila berhasil, monster tersebut akan terdaftar ke dalam
Pokédex kamu dan kamu bisa menjualnya lewat fitur Transfer (untuk
mendapatkan item Evolution Candy), membuatnya kuat dengan opsi level up,
atau mengubahnya menjadi jenis Pokémon baru (evolusi).
Penjabaran beberapa fungsi permainan tadi awalnya saya
gali dengan sedikit rasa kesulitan akibat minimnya tutorial dalam
Pokémon GO Mirip dengan Ingress, Niantic Labs menghadirkan sebuah desain
antarmuka yang begitu minimalis tanpa menyediakan tool tips untuk
masing-masing fungsi ikon permainan. Yang ada di sini hanyalah tombol
Help yang memberikan teks penjelasan secara singkat saja.
Terlepas dari kekurangan tadi, Pokémon GO untungnya tidak
membebani pemainnya dengan mekanisme yang terlalu kompleks sehingga
siapa pun bisa menguasai seluk beluk mekanisme permainan game ini dalam
hitungan beberapa jam.
Persaingan antar tim yang bakal tiada habisnya
Serunya permainan Pokémon GO baru benar-benar terasa
begitu karaktermu mulai beranjak memasuki level lima. Di sini kamu
dipersilakan untuk memilih tiga tim yang mewakili sebuah faksi dengan
warna berbeda-beda: kuning untuk Instinct, biru untuk tim Mystic, dan
merah sebagai tim Valor.
Ketiganya tadi mewakili mekanisme permainan PvP dalam
upaya memperebutkan titik lokasi Pokémon Gym yang tersebar di seluruh
pelosok negeri.
Menguasai sebuah Pokémon Gym sendiri adalah satu-satunya
cara untuk mendapatkan mata uang IAP Pokécoins yang berfungsi untuk
membeli aneka ragam item mulai dari alat pengundang Pokémon, bundel
Pokéball, upgrade tas, mesin inkubator, dan lain-lain.
Perlu kamu ketahui pula bahwa penjagaan Pokémon Gym
membutuhkan kerja sama tim minimal tiga orang pemain (atau tiga akun
Pokémon GO) untuk menjaga supaya tidak mudah jatuh ke tangan tim lain.
Jika kamu hanya menjaga Gym tersebut seorang diri saja, maka pihak musuh
bisa merebut daerah kekuasaanmu tadi hanya dengan mengalahkan satu
monster Pokémon yang sedang bertugas jaga di Gym tersebut.
Dengan hadiah (dan kebanggaan prestise) dari mekanisme
perebutan Pokémon Gym tadi, semua orang kini berbondong-bondong untuk
membentuk sebuah tim yang solid dan memperkuat koleksi monster mereka
demi menghadapi kerasnya persaingan antar tim Pokémon Trainer yang tidak
akan ada habisnya, well kecuali jika server Pokémon GO mengalami
gangguan teknis.
Tidak harus memanfaatkan perangkat Pokémon Go Plus
Jika kamu mengikuti perkembangan berita seputar game
Pokémon GO kamu mungkin masih ingat dengan keberadaan gelang unik
bernama Pokémon Go Plus yang pada waktu itu diumumkan bersamaan dengan game ini di Jepang.
Pada waktu diumumkan, gelang berteknologi Bluetooth ini
memberikan kesan mewah yang membuat saya berpikir apakah alat ini
menjadi keharusan bagi para pemain untuk bisa betul-betul menikmati
Pokémon GO.
Fungsi utama dari Pokémon Go Plus sendiri adalah sebagai
alat bantu detektor bagi pemain untuk memberitahukan keberadaan monster
Pokémon dan lokasi Pokéstop di sekitar mereka. Dengan alat ini kamu bisa
memungut item yang terdapat di setiap lokasi Pokéstop secara praktis
tanpa perlu membuka layar smartphone sama sekali.
Gelang elektronik yang rencananya dibanderol mulai harga
US$ 27.99 atau sekitar Rp 370 ribu ini untungnya bukanlah perangkat
wajib untuk bermain. Tanpa perangkat ini kamu pun masih tetap bisa
bermain Pokémon GO asalkan perangkat smartphone dan tablet yang kamu gunakan sanggup menjalankan game tersebut secara lancar.
Senang di hati, boros di baterai
Sebagai game online berbasis teknologi GPS dan
AR, keharusan untuk selalu terkoneksi jaringan internet menjadi salah
satu harga yang harus dibayar para pemain Pokémon GO. Game ini
secara konstan akan terus menyedot paket data internet pemainnya untuk
kebutuhan Geo-Tagging dan secara tidak langsung juga terus menggerus
baterai perangkatmu hingga habis tak tersisa.
Solusi terbaik untuk menghadapi permasalahan ini jelas adalah menyiagakan perangkat power bank agar kamu tidak kehabisan daya baterai di saat-saat genting seperti menangkap Pokémon langka semacam Moltres dan Articuno.
Tetaplah bermain sambil menunggu kedatangan Pokémon GO di Indonesia
Seperti yang sudah singgung di awal kalimat tadi, ketika
tulisan ini dipublikasikan, Pokémon GO sendiri masih belum beredar
secara resmi di PlayStore wilayah Indonesia, namun banyak gamer di sini sudah mulai mencoba Pokémon GO lewat berbagai cara alternatif di internet.
Di saat mereka sedang asyik bermain, beberapa oknum saat ini sedang menyebarkan berita tidak sedap seputar isu pemblokiran game ini di beberapa negara seperti Filipina dan Tiongkok. Saran saya acuhkan informasi tersebut dan mainkan saja game
ini seperti biasa karena keabsahan berita tadi masih sebatas isu yang
tidak tertulis secara resmi di situs Pokémon Company, Nintendo, dan
Niantic Labs.
Sejauh ini saya cukup bersenang-senang dengan pengalaman
bermain Pokémon GO yang memang begitu unik dan menyenangkan. Ada banyak
sekali potensi yang bakal membuat game ini menjadi salah satu hiburan mobile
terbaik di tahun 2016 dan saya sendiri tidak sabar untuk melihat
perkembangan konten apalagi yang berikutnya akan diimplementasikan
Niantic Labs.
Apabila kamu berminat untuk mencoba game ini
lewat jalur alternatif yang lebih aman dibandingkan situs lainnya, saya
sarankan bagi kamu pengguna Android untuk mengunduh Pokémon GO lewat
situs penyedia APK terpercaya semacam Qoapp. Sedangkan untuk pengguna
iOS, kamu bisa mengganti region iTunes kamu di iOS menjadi negara Amerika atau Selandia Baru.








